Header Ads

Kepolisian Gagalkan Aksi Perampok Dana Bos, Satu Kawanan Perampok di Dor Polisi

Pelaku Perampokan Dana BOS di Karawang

POSPUBLIKNEWS.COM – Anggota kepolisian menggagalkan rencana perampokan yang akan dilakukan para komplotan perampok untuk merampok seseorang guru Bendahara sekolah  yang baru saja mencairkan uang dana Bantuan Oprasional Sekolah (BOS)sebesar Rp 400 juta rupiah.

Para komplotan ini menyamar sebagai nasabah Bank, penyamaran para perampok telah tercium oleh petugas kepolisian. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (21/9/2018) lalu. Beberapa petugas yang sedang mengamankan transaksi itu, melihat tindakan mencurigakan dari empat orang pria yang membuntuti mobil bendahara sekolah.

Kapolsek Karawang Kota Kompol Iwan Ridwan Saleh mengatakan, petugas melihat mobil nasabah dibuntuti empat pelaku menggunakan dua motor. Tak lama kemudian, mobil nasabah tersebut mendadak melaju pelan di perempatan Pemda Karawang. Saat mereka mendekati mobil tersebut, petugas menegur mereka, tapi para pelaku malah menyebar kabur," kata Iwan di Mapolres Karawang. Selasa (2/10/2018).

Lebih lanjutnya, petugas mengejar dua pria yang mengendarai motor hingga wilayah Karangpawitan. Di sana, seorang pelaku bernama Eko Syahputra terjatuh dari motor. Petugas lalu menyergap dan membawa pria itu ke Mako Polsek Karawang Kota. Polisi lalu mendalami kasus tersebut, berbekal keterangan dari Eko, polisi memburu sisa kelompok lainnya.

Sementara  Kapolres Karawang AKBP Slamet  Waloya menyatakan kelompok itu beranggotakan empat orang pria. Mereka adalah Alamsyah alias Amin, Eko Syahputra dan Dodi. Ketiganya dipimpin Sandi Saputra yang biasa merancang strategi perampokan.

"Petugas terpaksa menembak otak komplotan karena dia mencoba melarikan diri saat ditangkap. Bahkan dia menabrak petugas menggunakan motor," kata Slamet di Mapolres Karawang, Selasa (2/10/2018).

Lebih lanjutnya Slamet mengungkapkan, para kelompok itu dikenal sangat lihai mengelabui korban mereka. Aksi kelompok ini tergolong taktis dan cepat, mereka mengincar korban sejak bertransaksi di dalam bank.

“Para pelaku biasa membagi tugas saat merampok. Dalam kelompok itu, satu orang berpura-pura menjadi nasabah untuk memantau dari dalam bank, anggota lainnya berperan menguntit dan mengeksekusi uang korban. Di luar ada dua orang yang menguntit mereka, sementara kawan mereka menyiapkan jebakan untuk dipasang di mobil korban, jebakan itu berupa paku khusus yang berfungsi membuat ban mobil kempes,” ungkap Slamet.

Paku itu terbuat dari rangka payung, ditajamkan di kedua sisinya sampai berongga, dan memiliki dua lubang. Masih kata Slamet,  paku itu dieratkan sedemikian rupa dengan sepatu atau sandal yang disimpan dekat mobil korban. Posisinya ditempatkan di dekat ban sehingga mudah terlindas. "Cara itu membuat mobil korban kempis. Korban yang keluar dari mobil untuk memeriksa ban telah dikelabui," katanya.

Saat korban di luar mobil, dua orang yang berboncengan sepeda motor mengeksekusi uang yang ditinggalkan di dalam mobil. Biasanya korban mereka baru sadar uangnya dicuri setelah memeriksa keadaan ban belakang mobil yang tiba-tiba kempis," tutur Slamet.

Atas perbuatan mereka, Para penjahat jalanan itu terancam hukuman 7 (tujuh) tahun penjara karena masuk unsur pasal 363 KUHP.(*)

Diberdayakan oleh Blogger.