Header Ads

Wajah Baru TPST Bantar Gebang

Sarana TPST Bantargebang Milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

POSPUBLIK.NEWS.COM
Kota Bekasi- Catatan penting ringkas tentang pengelolaan sampah TPS Bantargebang di Kota Bekasi.

Berkaitan dengan  HUT DKI Jakarta ke 492 pada 22 Juli 2019. Gubernur DKI Anies Baswedan , memaparkan, " Wajah Baru Jakarta", yakni sejumlah kemajuan pembangunan yang telah dicapai selama pemerintahannya. Persoalan sampah belum disentuh secara detail.


Dalam konteks pengelolaan sampah, perlu disajikan catatan penting seputar pengelolaan TPST Bantargebang.

TPST Bantargebang seluas 110,2 hektar milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dioperasikan sejak 1989-an.

TPST itu mengalami pasang surut dalam perjalanannya. Semula hanya mengandalkan teknologi sanitary landfill, namun dalam prakteknya belum dijalankan secara penuh.


Guna menjawab permintaan warga dan para pihak yang berkepentingan terhadap kelansungan TPST agar menggunakan teknologi modern dan libatkan warga sekitar.

Maka pada tahun 2008, dilakukan pembangunan fasilitas pengolahan sampah, yakni composting, recyling plastik, pemanfaatan gas-gas sampah menjadi listrik (dikenal power house), penerapan sanitary landfill, dll.



Hingga kini fasilitas dan teknologinya masih dimanfaatkan meskipun skalanya relatif kecil. Ketika itu sampah DKI yang kirim ke TPST rata-rata 6.000 ton/hari.


Kemudian pengelolaan TPST Bantargebang tahun 2016 diambil-alih Pemprov DKI dengan sistem swakelola. Volume jumlah sampah yang dibawa ke TPST pada 2016 bertambah menjadi 7.000 ton/hari. Tahun 2018 terus meningkat sekitar 7.200-7.500 ton/hari.

Bertambahnya volume sampah sangat besar sehingga butuh pemikiran, kebijakan, kelembagaan yang responsif, sarana prasarana, tekonologi, partisipasi berbagai stakeholders dan anggaran besar.

Jumlah volume sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang terus meningkat, sebab DKI belum mampu mewujudkan pengolahan sampah di wilayah indoor. Proyek tersebut dikenal dengan intermedate treatment fasility (ITF). Sejak 2004-2005 DKI berencana bangun 4-5 ITF di wilayah indoor.

Rata-rataa kapasitas olah sampah 1.500-2.000 ton/hari. Tetapi sampai tahun 2017 ITF belum terwujud. Lalu pada 2017 mencuat lagi isu pembangunan ITF di Sunter Jakarta Utara. Sudah beberapakali DKI ulang tahun dan gubernur ganti, ITF masih dalam mimpi.


Pembuangan sampah DKI hingga sekarang masih mengandalkan TPST Bantargebang.

Sementara per 22 Juli 2019 semua zona TPST sudah penuh, bahkan tumpukan sampah makin tinggi, lebih 30 meter. Berbagai cara dilakukan untuk menyiasati penataan sampah TPST. Usaha seperti ini tidak mudah perlu terobosan baru dan progresif.

Pada saat ini TPST Bantargebang butuhkan teknologi pengolahan sampah modern, canggih skala besar/massif. Setidaknya sampah yang masuk bisa diolah dengan target 40% dan secara bertahap hingga, 50%, 60%, 70%. Fokusnya olah dan kurangi sampah di TPST dengan target tinggi, inilah opsi yang terbaik.

Sebagai contoh, TPST butuh teknologi/mesin pengomposan skala besar, modern dan canggih, sebab 54% dari 7.200-7.500 ton/hari sampah masuk TPST merupakan sampah organik. Merupakan bahan potensial untuk kompos/pupuk organik. Fokus pada sampah pasar seluruh DKI sekitar 1.800-2.000 ton/hari.

Sekarang kapasitas pengomposan di TPST sekitar 2,5-5 ton/hari. Kapasitas produksinya masih sangat kecil, sementara prosedur dan metode pengomposannya perlu dievaluasi agar komposnya berkualitas tinggi berdasar uji laboratorium.

Demikian pula infrastruktur dan teknologi olah sampah lainnya skala kecil dan perlu diganti, kecuali power plant. Sebaiknya power plant dioptimalkan agar dapat menghasilkan listrik lebih signifikan. Sebab power house itu menelan anggaran ratusan miliar rupiah.

Sampah organik itu harus dapat diolah seperti yang dilakukan negara-negara maju, contoh Jerman, Austria, dll. Negara ini punya composting plant besar dan modern, seperti mesin pencacah skala besar, mobile shredder, turning mechine, dll.

Juga harus punya fasilitas dan teknologi modern, canggih skala besar. Proses biogradable waste dengan metode anaerobic digestion secara teknis teknologis berkontribusi terhadap green gases to global warming.

Metodologi tersebut beri keuntungan: a. Renewable fuel (biogas) leading to renewable power, b. Recovered material through recycling, c. Digestate-an organic fertilizer nd soil improve, d. Carbon credits - additional revenvues, e. High calorific fraction refuse derived fuel - Renewable fuel contet dependent upon biological component, f. Residual unsusable materials prepared for their final safe treatment.

TPST pun perlu memiliki infrastruktur/plant daur ulang sampah plastik modern, canggih skala besar, daur ulang logam, daur ulang kaca/beling, daur ulang kayu, dll.

Sebaiknya Pemprov DKI menggenjot pembangunan berbagai fasilitas pengolahan sampah di TPST Bantargebang lima tahun ke depan.

Gubenur DKI dan DPRD DKI harus punya perhatian khusus terhadap kelangsungan TPST Bantargebang bersama Pemerintah Pusat.

Perlu dikatahui di TPST Bantargebang kini dibangun pilot project Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dengan teknologi thermal alias insinerator.

Merupakan kerjasama BPPT Kemenristek dan Dikti dengan Pemprov DKI tahun 2018. Kapasitas produksi sekitar 100 ton/hari. Pun akan menghasilkan listrik sekitar 750 KwH (7,5 KwH/ton).

Tujuan pilot project sebagai learning centre dalam inovasi pengolahan sampah. Belum lama ini pilot project PLTSa diresmikan oleh tingga kementerian, yakni Menko Maritim, Kementerian Ristek dan Dikti dan Kementerian KLHK RI.

kemudian diberi nama PLTSa Merah Putih. Berbarengan dengan itu dilakukan proyek pemilahan sampah kapasitas 50 ton/hari.

Karena yang dibutuhkan PLTSa adalah sampah terpilah, sedang sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang masih campuran/gabrugan.

Kondisi sampah campur ini akan mengganggu kinerja operasional PLTSa. Hal ini jadi catatan untuk pembangunan ITF Sunter Jakut dan proyek PLTSa disejumlah kota di Indonesia.

Apenyediaan sampah terpilah sudah dilakukan secara matang? .. dengan budaya dan sarana pilah sampah yang ada belum mendukung proyek tersebut.

Target pengurangan sampah secara massif butuh teknologi modern dan canggih yang dapat mengurangi gunung-gunung sampah di TPST Bantargebang.

Sepertit teknologi waste toenergy (WtE), seperti sampah dijadikan briket. TPST mestinya membangun plant WtE khusus briket kapasitas 1.000-1.500 ton/hari.

Selanjutnya, TPST bisa membangun plant waste to material (WtM), yakni sampah dijadikan material bangunan, seperti bata merah, loster, pavin-block, dll. Kapasitas produksi sama dengan WtE. Pekerjaan proyek-proyek yang mampu kurangi sampah secara signifikan harus jadi prioritas utama.

Upaya-upaya pemulihan lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat sudah dilakukan, sehingga terjadi perubahan semakin baik.

Seperti kegiatan penataan sampah dan cover-soul, pengelolaan IPAS, penghijauan dan pembuatan green-belt, pembuatan taman dan ruang terbuka hijau (RTH), demplot berbagai tanaman untuk uji coba kompos, konservasi kali Ciketing. Pada mid 2019 konservasi kali Ciketing bagian barat daya atau sebelah utara zona IV merupakan contoh terbaik selama bertahun-tahun pengelolaan TPST Bantargebang.

Selanjutnya pembangunan proyek 6 titik sumur artesis sebagai pelayanan air bersih untuk warga sekitar.

Sayangnya per 22 Juni 2019 ada 6 sumur yang rusak, 5 mesin penyedotnya harus diangkat dan diperbaiki. Perawatan suemur-sumur itu masih di tangan swasta. juga pembangunan fasilitas pencucian kendaraan sudah dioperasikan tiap hari. Secara bertahap perbaikan infrastruktur jalan, saluran air dan pendukung terus digenjot oleh pengelola TPST.

Uang bau untuk warga sekitar TPST meningkat terus, sekarang Rp300.000/KK/bln dibayar tiap tiga bulan sekali via online bank dan dana kemitran langsung disalurkan ke Pemkot Bekasi dalam jumlah ratusan miliar tiap tahun.

Tahun 2018 DKI beri dana kemitraan sekitar Rp 500 miliar. Pelayanan kesehatan gratis, fasilitasi BPJS ketenagakerjaan bagi pemulung, pemenuhan kesejahteraan pekerja TPST dengan upah layak dengan pembayaran via online bank DKI, penyediaan fasilitas ibadah dengan dibangunannya Masjid Al-Ikhlas di kawasan itu.

Sekarang perlu dibangun klinik kesehatan yang berdekatan dengan kantor TPST, karena selama ini mengandalkan Puskesmas di Kelurah Cikiwul, Ciketingudik dan Sumurbatu serta Kecamatan Bantargebang.

Berbagai fasilitas kini sedang dibangunan, seperti kantor administrasi (rencana bertingkat), worksop/bengkel alat berat dan kendaraan,dll.

Semua itu untuk mengubah wajah TPST Bantargebang menjadi pengolahan sampah terpadu modern dan ramah lingkungan, Pusat Studi Sampah Nasional dan destinasi karya wisata.  22/6/2019.

Bagong Suyoto, Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) dan Dewan Pembina Koalisi Kawal Lingkungan Hidup Indonesia (KAWALI).

Reporter : (Suhadi / Uci)

Editor : Saiful

Diberdayakan oleh Blogger.